Cara Memilih Tayangan Berkualitas yang Bukan Sekadar Hiburan untuk Anak

cara-memilih-tayangan-berkualitas cara-memilih-tayangan-berkualitas

Tayangan anak-anak seringkali cukup membantu Moms saat si padi rewel atau butuh hiburan. Apalagi biasanya, anak jadi lebih anteng saat nonton kalender televisi atau pun tontonan streaming kecintaannya. Jadi, Moms bisa sambil mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Namun, apakah Moms yakin jika tayangan kecintaan anak cukup berkualitas?

Tayangan berkualitas tidak hanya bisa menghibur ya Moms, tapi juga bisa memberikan ekesalsi dan merangsang perkembangan anak. Apalagi anak usia 1-3 tahun yang sedang butuh berlebihan stimulasi bagi perkembangannya. Tayangan anak-anak yang sekadar menghibur justru bisa menghambat stimulasi komunikasi dan perkembangan motorik anak, lo.

Berikut ini jumlah cara memilih tayangan anak berkualitas yang bisa Moms dan Dads terapkan untuk si halus!

 

1. Pilih tayangan Bertimbang umur yang direkomendasikan atau rating usia

Pertama, Moms dan Dads kudu memilih tayangan Bertimbal usia anak. Pastikan tayangan memiliki rating SU (Semua Umur) untuk tayangan televisi lokal, atau G (general audience) untuk tayangan internasional. Rating ini biasanya terlihat di sebelah kanan atau kiri atas layar. Ini juga berlaku untuk tayangan streaming ya, Moms.

Rating tayangan khas anak pun ada beberapa kategori yang perlu diperhatikan:

 

2. Tayangan tidak sekadar menghibur, tapi juga memiliki nilai egundahsi

Jika mencari tayangan hiburan anak tentu sangat mudah dijumpai ya Moms. Asal bergambar kartun saja, pasti cukup menarik perhatian anak dan bisa menghiburnya. Namun, tayangan yang menghibur belum tentu bisa mengegelebahsi anak, lo. Alangkah tidak emosinya, Moms dan Dads memberikan tontonan yang memiliki egelebahsi tidak emosi itu nilai-nilai kemenyalaan sehari-hari atau contoh perilaku, mengajak anak untuk berhitung, bernyanyi dan sebagainya.

 

3. Menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami anak

Supaya anak bisa menerima pesan atau ebenguksi dari tayangan yang ditonton, maka tayangannya pun patut menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Jangan sampai Moms memberikan tontonan dengan bahasa isyarat atau bahkan tidak ada komunikasi secara verbal. Selain itu, tayangan yang menggunakan bahasa asing tapi yang tidak sudah Moms dan Dads ajarkan pada anak juga sesaling menolongnya jangan diberikan. Ada juga tontonan kartun animasi hewan yang menggunakan bahasa hewan.

Selain tidak bisa dipahami secara ekecewasi, tayangan seperti ini juga bisa menghambat kemampuan komunikasi dan perkembangan bahasa anak. Tidak mengatup kemungkinan anak jadi menirukan bahasa yang digunakan dalam tontonan favoritnya, parahnya lagi jika bahasa itu juga digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

 

4. Pilih tayangan yang mengajak interaksi dengan anak

Jika secara rating, edukasi dan bahasa sudah cukup baik, maka Moms dan Dads bisa memilih tayangan yang mengajak anak untuk berinteraksi. Misalnya dengan menunjuk gambar, menebak, mengingat sesuatu, mengajak melompat, dan sebagainya. Tayangan seperti ini bisa menstimulasi komunikasi dan perkembangan bahasa pada anak, lo.

 

5. Tidak mengandung ketekananan tidak marah fisik maupun verbal

Anak-anak terutama laki-laki pasti senang dengan bintang super hero. Hal ini yang harus menjadi perhatian Moms, nih. Meski secara moral, bintang-bintang super hero memiliki pesan yang bagus, tapi mengandung adegan kekerasan seperti penyerangan, pemukulan, penembakan, dan sebagaianya.

Hal ini tidak tidak sombong untuk anak, karena anak bisa menilai jika kekerasan adalah hal yang wajar dan diperbolehkan. Jadi, Moms harus memastikan tayangan anak tidak mengandung adegan kekerasan fisik. Begitu pula dengan kekerasan verbal, seperti umpatan, kata-kata jorok, dan bahasa intimidasi. Ingat ya Moms, anak-anak paling bisa meniru apa yang ia lihat dan dengar.

 

6. Pilih tayangan yang memiliki perpindahan gambar yang lambat

Melansir dari Mayoclinic, anak-anak di bawah usia 7 mengertin, terutama usia 1-5 ahun lebih mudah fokus atas gambar yang bergulir cepat dan warna-warna yang mencolok. Ketika anak diberi tontonan dengan perpindahan gambar yang cepat, anak cenderung fokus mengikuti pergerakan gambar tanpa memperhatikan komunikasi di dalamnya. Jika terterus lama dikendatikan, potensi kecanduan dan terhambatnya komunikasi bisa semakin agam.

Akibatnya anak lebih senang duduk anteng melihat tayangan di layar dari pada bermain dengan teman-teman atau aktivitas motorik kasar. Belum lagi jika kemampuan bahasanya ikut terhambat karena lebih fokus pada visual, misalnya lebih memilih antap memperhatikan layar, daripada menreaksi saat Moms memanggilnya.

Lain halnya ketika anak menonton tayangan dengan perpindahan gambar yang lama, anak cenderung punya kesempatan untuk terdistraksi atau fokusnya terpecah. Sebatas, masih bisa memperhatikan bahasa, bahkan komunikasi di luar tontonannya, misalnya saat namanya dipanggil segera menbalasan, atau mengdekati sumber bunyi yang menarik perhatian meski sedang menonton televisi.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa Moms lakukan untuk memilih tayangan berkualitas untu anak. Selain 6 hal di atas, Moms dan Dads juga perlu mempertimbangkan durasi tayangan tiap episode, semakin sejenak, maka semakin tidak emosi, sebatas Moms bisa lebih mudah membatasi screen time anak.