Penipuan Terbesar di Industri Teknologi - Skandal Theranos

Theranos milik Elizabeth Holmes Theranos milik Elizabeth Holmes
Theranos adalah perusahaan teknologi kesehatan didirikan pada tahun 2003 oleh Elizabeth Holmes. Startup ini menghadirkan tes darah revolusioner untuk mendisrupsi industri medis Amerika Serikat yang bernilai miliaran. Namun, tawaran kecepatan dan harga murah menimbulkan kecurigaan. Berawal dari John Carreyrou, jurnalis The Wall Street Journal yang penasaran dengan kemampuan Elizabeth Holmes dalam menciptakan inovasi teknologi, padahal wanita ini hanya dua tahun menempuh pendidikan di Universitas Stanford. Fakta Skandal Theranos Sebelum mengalami keruntuhan, Theranos mencapai puncak kejayaan selama 10 tahun sejak 2013, dan memiliki pendapatan senilai US$10 miliar. Inovasi teknologi kesehatan digadang-gadang dapat mendiagnosa segala macam penyakit, ternyata hanya sebatas deskripsi tanpa pernah dikonversi menjadi perangkat nyata. Berikut ini sisi kelam Theranos hingga terbukti menjual paten palsu. 1. Sebatas Menjual Janji Semata Elizabeth Holmes menawarkan inovasi yang akan mendobrak industri medis pada tahun 2003. Ia menjanjikan tes kesehatan secara keseluruhan hanya dengan setetes darah. Teranos menjadi perhatian para profesor dari berbagai universitas lantaran memiliki ide berbeda dari perusahaan teknologi yang ada di Silicon Valley pada saat itu. Namun, janji Elizabeth Holmes hanya omong kosong, tidak ada perawatan kesehatan yang canggih, cepat, dan murah hingga saat ini. 2. Menawarkan Perangkat Medis Inovatif Awalnya, Theranos menciptakan dan mempresentasikan sarung tangan yang dapat mengambil sampel darah untuk mendiagnosis penyakit menular. Tidak lama setelah itu, menawarkan pengambilan sampel darah menggunakan alat serupa jarum suntik, kemudian dimasukkan ke dalam suatu perangkat pembaca data untuk mendeteksi penyakit yang diderita. Lalu, hasilnya dianalisa menggunakan komputer milik Theranos. Dibandingkan jasa konsultasi kesehatan lainnya, Theranos membandrol tarif yang sangat terjangkau. Tes hemoglobin hanya US$1,63 dan cek kolesterol sekitar US$ 2,99. Hal ini menarik perhatian banyak kalangan tidak terkecuali para investor. 3. Kebohongan Terkuak Tahun 2015, John Carreyrou melakukan investigasi melalui The Wall Street Journal. Data yang didapat menunjukkan bahwa perangkat yang dikembangkan Theranos menghasilkan informasi kesehatan yang salah, berbeda dengan diagnosis laboratorium konvensional atau rumah sakit lainnya. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata Theranos tidak pernah menggunakan perangkat ciptaannya. Tes darah dilakukan dengan alat-alat sederhana yang dijual dipasaran. 4. Sebagai Lampu Merah untuk Para Investor Mantan pimpinan Asosiasi Kimia Klinis Amerika, David Grenache mengatakan bahwa penipuan Theranos meningkatkan kesadaran para investor untuk lebih berhati-hati dengan kecanggihan teknologi yang tidak masuk akal. Profesor kedokteran Stanford, John Ioannidis merupakan salah satu orang yang menentang Theranos. Ia menemukan banyak startup medis yang beroperasi secara sembunyi-sembunyi. Mereka mencari dana pada investor tanpa menunjukkan bahwa produk ciptaannya berfungsi. Cara Elizabeth Holmes Menggaet Investor Lalu, bagaimana cara Elizabeth Holmes menarik uang dari investor dalam projek yang terdengar mustahil dan membawa Theranos menuju perusahaan yang memiliki valuasi mencapai US$10 miliar? Menurut berbagai sumber ada dua faktor yang melatarbelakangi keberhasilan tersebut, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal, Elizabeth Holmes merubah dirinya menyerupai Steve Jobs, salah satu pendiri Apple dan revolusioner pasar teknologi dunia. Menurut pakar psikolog dan mantan agen CIA, Richard Fuisz, M.D. mengatakan bahwa CEO Theranos tersebut meniru mulai dari gaya berpakaian, bahasa tubuh, hingga cara mempresentasikan produknya. Richard juga menganalisis cara bicara Elizabeth Holmes, ia dengan sengaja memberatkan suaranya agar terlihat berwibawa. Tiruan inilah yang membuatnya disegani banyak orang termasuk para investor. Faktor eksternal, investor lebih menggunakan insting mereka dan terbuai dengan inovasi teknologi yang terus diminati sampai beberapa tahun kedepan. Selain itu, mereka menilai Theranos memiliki misi mulia, yaitu merevolusi industri medis hingga semua kalangan masyarakat dapat menggunakan fasilitas kesehatan. Inilah yang menyebabkan investor mengabaikan data-data penting yang seharusnya mereka periksa dengan teliti. Apalagi beberapa dari mereka merupakan tokoh besar, seperti: The Walton Family pendiri perusahaan Walmart Rupert Murdoch pemilik New Corporation, pemegang Fox News, 20th Century Fox, dan The Wall Street Journal Betsy De Vos mantan Menteri Pendidikan Amerika Serikat, pengusaha, filantropi, dan Selain disebutkan di atas, masih banyak tokoh-tokoh penting yang menjadi korban penipuan Theranos. Pejabat Publik yang Terlibat dalam Skandal Theranos Tidak hanya berhasil menggaet para investor, Elizabeth Holmes merangkul beberapa publik figur sebagai anggota dewan dan komisaris di Theranos. Tentu saja kedudukan mereka juga dipertanyakan dalam persidangan. Pengacara terkemuka, David Boies mewakili Theranos sebagai penasehat hukum sekaligus menduduki kursi direksi perusahaan. Pensiunan jenderal bintang empat dan menteri pertahanan di era kabinet Presiden Donald Trump, James Mattis menjabat sebagai anggota dewan direksi Theranos. Ekonom, diplomat, serta politisi Amerika Serikat mantan menteri di era Nexon dan Reagan, George Pratt Shultz merupakan anggota dewan direksi Theranos pada tahun 2011 hingga 2015. Mantan menteri luar negeri Amerika Serikat dan pemenang Nobel Perdamaian, Henry Alfred Kissinger menjabat di Theranos pada tahun 2014 hingga 2017. Itulah skandal perusahaan teknologi Theranos. Berbagai pihak dimintai pertanggungjawaban dan menjadi saksi. Setelah melalui serangkaian persidangan, Elizabeth Holmes dinyatakan bersalah atas empat dakwaan dan dijatuhi hukuman penjara selama 11 tahun 9 bulan.