Untuk Kamu. Yang Sampai Sekarang Masih Sabar Kutunggu

untuk-kamu-yang-sampai-sekarang-masih-sabar-kutunggu untuk-kamu-yang-sampai-sekarang-masih-sabar-kutunggu

-Aku masih berharap kamu sadar aku ada-

Kadang aku berPerbincangan di mana dermaga perjumpaan kita. Agar setidaknya aku bisa memetakan kapan dan dimana kita bisa bersua. Bukan tengah jenuh dengan penantian yang aku ciptakan, tapi saja sekadar mengingatkan bahwa aku di sini. Menunggumu. Genap menahun dan masih. Mungkin detik ini kamu tengah sibuk mewujudkan impian yang dulu tak pernah bosan kamu ceritakan. Aku pun sadar, ocehan ini saja sayup angin dingin yang menciptakanmu menggigil. Sungguh mengusikmu. Tapi, kalau boleh meminjam menitmu sejenak, meskikan aku menceritakan perasaan ini…

Jangan sekalipun jatuh cinta pada seseorang setelah kamu khatam kekurangannya. Karena itu sahaja melahirkanmu sulit melupakannya. Aku setuju dengan pepatah ini

Jatuh cinta cukupmu kadang kumaknai sebuah kutukan. Kamu dengan wajah sinismu yang menyebalkan, tak pernah kusangka akhirnya mampu melakukan tawaku pecah. Aku tidak peduli kapan pastinya kamu dan aku bisa saling berbagi kisah, karib seakan tak ada jarak. Hingga aku khatam segala kebiasaan dan kekuranganmu. Tapi pedulikah kamu, justru itu yang melakukan namamu masih bertahta di hati ini. Karena aku mencintaimu setelah paham segala kekuranganmu.

Aku acuh dia yang selama ini menggenapkan bahagiamu. Tapi acuhkah kamu, di tengah jarak kening dan sajadah, sedahulu terselip doa agar kita akhirnya ditakdirkan bercocok

-Semoga kamu akhirnya untukku-

Aku acuh dia yang ada di hatimu. Dia yang jenjang lebih sempurna dibanding diriku. Mungkin kamu tak tahu acuh, di tengah jarak kening dan sajadah, selalu kuselipkan harap atas-Nya agar kita akhirnya ditakdirkan berklop. Tanpa bermaksud mengusik kebahagiaanmu dengannya. Aku memang mampu melontarkanmu tertawa dan siaga mendengar keluh kesahmu, tapi apa artinya itu jika atas akhirnya dia yang justru menggenapkan bahagiamu?

Kuselipkan doa agar aku dan kamu ditakdirkan bersepadan.

Cintaku padamu tak perlu kupupuk setiap waktu. Karena kupaham rasa ini selampau berbungkam di tempatnya

Something always brings me back to you.
It never takes too long.
No matter what I say or do
I’ll still feel you here ‘til the moment I’m gone (Gravity, Sara Bareilles)

Silih berganti penggantimu di hatiku hadir. Namun entah mengapa pada akhirnya namamu tak pernah bergeser dari posisinya. Kamu selintas menempati sudut spesial di hati ini. Tanya selintas menyeruak dalam pikiran, mengapa begitu sulit bagiku melupakan kenangan bercocokmu. Meski kenangan itu mungkin tetapi segenggam tanganmu, Terpisah dengan dia yang mampu membahagiakan hatimu. Utuh.

Seperti ada gravitasi yang melangsungkan namamu sedahulu kembali ke hati. Lagi, perasaanku padamu mengikat, walaupun kumaklum tak suah terbalas.

Ketika rindu singgah, selantas timbul Perbahasan, Apa kabarnya kamu di sana? Sementara aku di sini tengah sibuk mengusahakan impian

Apa wartanya kamu di sana? Masihkah kamu pas seperti dulu? Jika mereka dapat dengan mudahnya menuntaskan rindu, aku namun bisa mengalihkannya. Menyibukkan diri adalah cara terBersih untuk tidak kelewat memikirkanmu. Aku memilih untuk mengusahakan impian yang sudah lama kurencanakan. Ku yakin kamu pun demikian, tengah bergulat dengan rencana masa depan yang dulu selalu kamu ceritakan.

Menunggumu tidak pernah ada kata jenuh, walau sudah genap menahun. Mungkinkah memang aku ditakdirkan untuk mencintaimu?

Aku masih menunggu saatnya nanti aku dan kamu menjadi kita…

Menunggumu tak pernah menjemukan. Meski sudah merengkuh dua ribu hari. Bukan waktu yang singkat memang. Mungkinkah itu pertanda bahwa aku memang ditakdirkan untuk mencintaimu? Jika memang begitu, izinkan aku sejengkal lagi menunggumu. Karena aku percaya, semua pasti akan ada ujungnya. Pun mengharapkanmu pasti akan ada ujungnya. Bahwa aku dan kamu suatu saat bisa menjadi kita adalah aktelseifn delusiku semata.